• Depkominfo: Pembuat Sudah Ditangkap
PEMBUAT sekaligus pengirim pertama SMS
(pesan singkat melalui ponsel) yang meresahkan warga di banyak daerah
termasuk Banjarmasin, sudah tertangkap. Motivasinya: iseng!
Informasi ini diungkapkan Kabag Humas Ditjen Postel Depkominfo Gatot S Dewabroto di Jakarta, Selasa (13/5).
Dengan tertangkapnya pelau yang tidak disebutkan identitasnya itu, dia memastikan ada SMS yang bisa menyantet orang.
“Sudah terbukti sekarang, kemarin orang-orang yang sakit setelah baca SMS bukan karena santet,” katanya.
Kali pertama muncul di Pekanbaru, Riau, pesan ini dengan cepat menyebar hingga provinsi-provinsi lain.
Isinya, meminta masyarakat tidak menghidupkan ponselnya jiak dihubungi
nomor berakhiran 0666 dan 0866 dengan warna merah. Disebutkan pula,
pelanggar pesan ini ada yang tewas.
Menurut Gatot, si pengirim awal SMS santet itu sengaja memanfaatkan
keresahan masyarakat dengan medium telepon selular. Dengan
tertangkapnya orang tersebut juga mementahkan dugaan operator selular
ingin menaikkan traffic.
“Salah satu operator mengeluh dapat apes dengan adanya SMS itu. Apalagi
harus berkali-kali menjelaskan kepada publik dan mendapat keluhan,”
katanya.
Setelah dilakukan penelusuran, SMS santet tersebut ternyata dikirim
dari nomor telepon selular daerah di Riau. “Awalnya dikirim dari nomor
0812. Disebut-sebut juga nomor 0866 yang dianggap milik Natrindo
Telekomunikasi Selular (NTS) Axis, padahal nomor mereka awalnya 083,”
tutur Gatot.
Begitu SMS santet itu beredar, Depkominfo pun menyampaikan surat kepada
11 operator untuk segera mengoptimalkan call center-nya. Tujuannya
agar isu SMS santet itu tidak berkembang liar.
Namun, saat penangkapan ini disangkal Wadir Reskrim Polda Riau AKBP
Luki Arliansyah. “Itu (penangkapan pengirim SMS santet) di Polda Kepri.
Pelakunya kalau tidak salah saya dengar anak SMA,” ujarnya.
Alih-alih mendapat informasi valid, pers yang mencoba mengkonfirmasi ke Polda Kepri, justru kian bingung.
“Memang ada isu penangkapan tersangka SMS santet, tapi kami belum tahu
menahu. Tim yang kami bentuk untuk menangani kasus ini belum memberikan
laporan resmi soal penangkapan,” ujar Kadispen Polda Kepri AKBP Anggria
Lupis.
Kabarnya, pelakunya anak SMA? “Ya itu tadi, kami belum tahu apa-apa,” tukasnya.
Teror
Pengamat intelejen, Wawan Purwanto menilai penyebaran SMS
santet itu bertujuan meneror masyarakat. “Ini bagian dari strategi
teror untuk membuat masyarakat resah dan tidak punya rasa percaya diri.
Karena masyarakat jadi tidak yakin maka jadi tidak produktif,” katanya.
Menurut dia, ada banyak lini yang bisa memainkan ‘permainan’ ini. Namun
Wawan tidak bisa memastikan bermain-tidaknya pihak intelijen ikut
bermain dalam pemunculan dan pengelolaan isu tersebut.
“Intel atau bukan, kita tidak bisa menjustifikasi. Juga apakah kelompok
yang terorganisir atau hanya orang iseng belaka. Yang jelas, ini sudah
menimbulkan teror di masyarakat,” tegas Wawan. (dt/TB/TP)
DIarsipkan di bawah: nomor setan | Ditandai: hoax, sms merah, sms santet, telepon merah