Kehebatan Djoko Suprapto (48) menemukan blue
energy berupa BBM (bahan bakar minyak) berbahan baku air masih
misterius. Apa dan bagaimana bisa menemukan energi alternatif itu belum
pernah diungkapkan secara terbuka oleh Djoko.
Ketertutupan inilah yang membikin para ilmuwan meragukan temuan itu.
Bahkan, para peneliti Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE
UGM) Yogyakarta menudingnya sebagai penipu. Kok?
Penilaian ini bukan tanpa dasar karena mereka pernah berdiskusi dengan kelompok Djoko Suprapto.
“Saat itu Djoko dan tujuh temannya mendatangi kami. Mereka
menyerahkan kartu nama bertuliskan PT Darma Brahmana yang bergerak
dalam bidang energi alternatif berteknologi mata hati,” kata Ketua PSE
UGM, Sudiartono.
Dalam diskusi itu, kelompok Djoko ini tak bisa menjelaskan temuannya
secara ilmiah. Djoko hanya diam. Yang paling banyak bersuara adalah
temannya yang bernama Purwanto.
Dalam pertemuan pada dua tahun lalu ini, kelompok Djoko
memperlihatkan alat itu berbentuk seperti almari kecil dan portabel.
Kotak itu diberi nama kotak ajaib dan tersegel rapat. Di bagian pojok
kotak diklem, sehingga tidak bisa dibuka.
Menurut mereka, kotak itu menggunakan empat baterai kecil, memiliki
lampu 60 watt serta panel surya. Alat ini diklaim bisa membangkitkan
tenaga listrik berkapasitas 25 kilowatt. Anehnya, mereka juga
mengatakan di dalam kotak itu tidak ada accu dan inverter.
“Padahal mereka bilang dengan alat ini lampu bisa menyala selamanya.
Dari sini saya tidak percaya dengan kotak ajaib ini karena menyalahi
hukum kekekalan tenaga,” ucap Sudiartono.
Penasaran, Sudiartono pun melakukan penelusuran ke alamat kantor
mereka. Ternyata alamat yang tertera di kartu nama itu adalah rumah
direktur PDAM Solo, Jateng. Anehnya lagi, kode nomor telepon kantornya
adalah kode wilayah Klaten, Jateng.
Masih penasaran, alamat workshop juga ditelusuri. Hasilnya,
alamat fiktif. Sudiartono pun menelepon ponsel Purwanto. “Namun, dia
mematikan ponsel di tengah pembicaraan,” katanya.
Gagal meyakinkan UGM, kelompok ini menemui Rektor Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr Khoiruddin Bashori. Pada 13 Februari
2008, temuan ini di-launching dengan nama Banyugeni (air api). Purwanto masuk ke tim UMY sebagai konsultan ahli.
Namun, saat hendak dikonfirmasi, tidak ada satu pun pejabat/pimpinan
kampus yang bersedia memberikan keterangan soal proyek itu. Di kampus
itu juga tidak terlihat lagi aktivitas laboratorium Pusat Studi
Pengembangan Energi Regional (Pusper).
Khoiruddin Bashori pun hanya mengatakan UMY masih terus melakukan pengkajian dan belum perlu publikasi. “Kita cooling down dulu,” katanya.
Karbon
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga meragukan
penemuan Djoko ini. Apalagi, Sarana Harapan Indocorp (SHI) yang akan
memproduksi, memasarkan dan mendistribusikan blue energy menyatakan produknya bukan dari air melainkan substitusi hidrogen pada rantai karbon tak jenuh.
“Seperti yang saya duga, itu hal yang umum,” ujar Direktur Pusat
Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT, Unggul Priyanto.
Unggul mengatakan bahwa ada tiga cara untuk mendapatkan gas
hidrogen. Pertama, memakai batu bara. Batu bara digasifikasi sehingga
menjadi gas H2 (hidrogen) dan CO (karbonmonoksida). Setelah itu H2 dan
CO dicairkan dan direaksikan melalui satu katalis sehingga menjadi BBM
sintetis. Cara kedua, dari gas alam yang mempunyai struktur kimia CH4
atau metan. “Dengan parsial oksidasi, direaksikan dengan oksigen dan
uap air,” kata Unggul.
Sedangkan, cara ketiga adalah memakai air yang dielektrolisa
sehingga terpisah antara H(+) dan O(2-). “Tapi ini adalah cara yang
paling mahal. Makanya saya heran kalau pakai air. Karena biayanya dua
kali lipat dari dua cara lainnya,” ucapnya. (sry/dtc)
DIarsipkan di bawah: Artikel umum | Ditandai: bbm, blue energy, misteri